FASILITAS
Berbagai fasilitas tersedia dalam menunjang kegiatan belajar -mengajar.
more  
PROGRAM STUDI
Terdapat program studi strata 1 (S1) dan diploma (D1,D2, D3)
more Download Brosur
BEASISWA
Tersedia beasiswa untuk kalangan berprestasi
more Download
PELUANG KARIR
Berbagai macam peluang karir yang bisa ditempuh selepas kuliah.
more Download
MAHASISWA BARU
Segala informasi yang dibutuhkan untuk maba
more  
KEMAHASISWAAN
Banyak kegiatan kemahasiswaan yang dapat diikuti mahasiswa.
more  
BIAYA PENDIDIKAN
Informasi biaya pendidikan untuk berbagai jenjang pendidikan
more download
KALENDER AKADEMIK
Informasi proses belajar mengajar selama setahun.
more download

Articles

Theory of Translation
 
A.   Teori Terjemahan
Seseorang yang ingin menjadi penterjemah yang baik kini diperlukan memenuhi empat syarat utama seperti yang berikut:

  • Menguasai bahasa sumber secara mendalam: Keperluan ini dikehendaki untuk membolehkan seseorang penterjemah mengetahui seluk-beluk keistimewaan dan keganjilan bahasa sumber supaya dapat membedakan makna yang terkandung dalam teks asal dan dengan itu, mentakrifkan maksudnya dengan tepat.
  • Mengetahui bahasa penerima: Mengikut pakar terjemahan hari ini, seseorang penterjemah harus juga menguasai bahasa penerima dengan sama baik, jika bukan dengan lebih baik.
  • Pengetahuan dalam bidang yang diterjemahkan: Untuk menjamin supaya makna atau maklumat yang terkandung dalam teks asal dapat dipindahkan dengan tepat dan sempurna daripada bahasa sumber ke dalam bahasa penerima, seseorang penterjemah harus mengetahui dengan secukupnya bidang yang hendak diterjemahkan.
  • Mengetahui teori dan amalan terjemahan: Penterjemah tidak hanya mencari perkataan-perkataan padanan yang boleh menggantikan perkataan-perkataan asal dalam bahasa sumbernya tetapi penterjemah juga bertanggungjawab untuk memindahkan idea, maklumat dan gaya teks yang diterjemahkan. Ini bermaksud bahwa penterjemahan perlu dibantu oleh ilmu pengetahuan yang mencukupi dalam bidang teori dan kaedah terjemahan semasa menjalankan tugasnya.

Etienne Dolet(1509 – 1546) ialah bapak teori terjemahan yang merupakan orang pertama untuk mengemukakan lima prinsip pada tahun 1540 seperti berikut:

  1. Penterjemah harus benar-benar memahami isi dan hasrat penulis teks asal.
  2. Penterjemah harus menguasai bahasa sumber dan bahasa penerima terjemahan dengan baik.
  3. Penterjemah tidak boleh menterjemahkan perkataan demi perkataan.
  4. Penterjemah hendaklah menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang biasa digunakan dalam bahasa penerima.
  5. Penterjemah harus menciptakan kesan keseluruhan teks sumber yang betul melalui pemilihan dan susunan perkataan yang dibuatnya.

B.   Proses Penerjemahan
Dr. Ronald H. Bathgate, dalam karangannya yang berjudul "A Survey of Translation Theory", mengungkapkan tujuh unsur, langkah atau bagian integral dari proses penerjemahan sebagai berikut ini:

  1. Tuning (Penjajagan),
  2. Analysis (Penguraian),
  3. Understanding (Pemahaman),
  4. Terminology (Peristilahan),
  5. Restructuring (Perakitan),
  6. Checking (Pengecekan) dan
  7. Discussion (Pembicaraan) (A. Widyamartaya, 1989: 15).

Sedangkan menurut Ibnu Burdah (2004: 29), menyebutkan bahwa secara garis besar, ada sedikitnya tiga tahapan kerja dalam proses menerjemah, yaitu:

  1. Penyelaman pesan naskah sumber yang khendak diterjemah,
  2. Penuangan pesan naskah sumber ke dalam bahasa sasaran dan
  3. Proses editing.

Jadi sebagaimana menurut Langgeng Budianto (2005: 4) penerjemah dapat menghasilkan suatu terjemahan bagus dan efektif apabila dalam penyampaian intensi penulis merupakan tujuan setiap proses penerjemahan. Keefektifan terjemahan ditentuakan oleh tiga faktor:

  1. Derajat pengetahuan penerjemah,
  2. Derajat pencapaian tujuan penerjemahan, dan
  3. Derajat kepuasan penerjemah.

C.Klasifikasi Terjemah
Terjemahan dapat diklasifikasikan dalam berbagai jenis. Apabila dilihat dari tujuan penerjemahan, Brislin (dalam Emzir, 1999: 4) menggolongkan terjemahan ke dalam empat jenis, yaitu:

  • Terjemahan Pragmatis, yaitu terjemahan yang mementingkan ketepatan atau akurasi informasi.
  • Terjemahan Astetis-Puitis, yaitu terjemahan yang mementingkan dampak efektif, emosi dan nilai rasa dari satu versi bahasa yang orisinal.
  • Terjemahan Etnografis, yaitu terjemahan yang bertujuan menjelaskan konteks budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.
  • Terjemahan Linguistik, yaitu terjemahan yang mementingkan kesetaraan arti dari unsur-unsur morfem dan bentuk gramatikal dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran.

Dilihat dari jauh dekatnya terjemahan dari bahasa sumber dan bahasa sasaran, terjemah dapat diklasifikasikan ke delapan jenis. Kedelapan jenis terjemahan tersebut dapat dikategorisasikan dalam dua bagian besar.

  1. Terjemahan yang lebih berorientasi pada bahasa sumber, dalam hal ini penerjemah berupaya mewujudkan kembali dengan setepat-tepatnya makna kontekstual penulis, meskipun dijumpai hambatan sintaksis dan semantik yakni hambatan bentuk dan makna.
  2. Terjemahan yang lebih berorientasi pada bahasa sasaran. Dalam hal ini penerjemah berupaya menghasilkan dampak yang relatif sama dengan yang diharapkan oleh penulis asli terhadap pembaca versi bahasa sasaran (Choliludin, 2005: 205).

a.    Klasifikasi terjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber:

  1. Terjemahan kata demi kata (word for word translation). Penerjemahan jenis ini dianggap yang paling dekat dengan bahasa sumber. Urutan kata dalam teks bahasa sumber tetap dipertahankan, kata-kata diterjemahkan menurut makna dasarnya diluar konteks.
  2. Terjemahan Harfiah (literal translation) atau sering juga disebut terjemahan struktural. Dalam terjemahan ini konstruksi gramatikal bahasa sumber dikonversikan ke dalam padanannya dalam bahasa sasaran, sedangkan kata-kata diterjemahkan di luar konteks.
  3. Terjemahan setia (faithful translation). Terjemahan ini mencoba menghasilkan kembali makna kontekstual walaupun masih terikat oleh struktur gramatikal bahasa sumber.
  4. Terjamahan semantis (semantic teranslation). Berbeda dengan terjemahan setia. Terjemahan semantis lebih memperhitungkan unsur estetika teks bahasa sumber, dan kreatif dalam batas kewajaran. Selain itu terjemahan setia sifatnya masih terkait dengan bahasa sumber, sedangkan penerjemahan semantis lebih fleksibel.  

b.    Klasifikasi terjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran:

  1. Terjemahan adaptasi (adaptation). Terjemahan inilah yang dianggap paling bebas dan palingdekat kebahasaan sasaran. Terutama untuk jenis terjemahan drama dan puisi, tema, karakter dan alur biasanya dipertahankan.
  2. Terjemahan bebas (free trantation). Penerjemahan bebas adalah penulisan kembali tanpa melihat tanpa aslinya. Biasanya merupakan parafrase yang dapat lebih pendek atau lebih panjang dari aslinya.    
  3. Terjemahan idiomatik (idiomatic translation). Dalam terjemahan jenis ini pesan bahasa sumber disampaikan kembali tetapi ada penyimpangan nuansa makan karena mengutamakan kosa kata sehari-hari dan idiom dan tidak ada di dalam bahasa sumber tetapi bisa dipakai dalam bahasa sasaran.
  4. Terjemahan komunikatif (communicative translation). Terjermahan ini berusaha menyampaikan makna kontekstual dari bahasa sumber sedemikian rupa, sehingga isi dan bahasanya berterima dan dapat dipahami oleh dunia pembaca bahasa sasaran. Terjemahan ini biasanya dianggap terjemahan yang ideal.

 
C.   Pergeseran Makna
 
Menurut Catford (1965:20), penerjemahan berarti mentransfer bahasa sumber ke bahasa sasaran. Penerjemahan merupakan penggantian materi tekstual pada bahasa sumber ke bahasa sasaran. Dalam proses penerjemahan, penerjemah selalu berusaha mendapatkan unsur bahasa sasaran yang sepadan dengan bahasa sumbernya agar dapat mengungkapkan pesan yang sama dalam teks sasaran. Karena setiap bahasa mempunyai aturan tersendiri, maka perbedaan aturan ini akan menyebabkan terjadinya pergeseran.
Simatupang (2000:74-82) menyebutkan jenis-jenis pergeseran dalam terjemahan sebagai berikut:

Pergeseran pada tataran morfem
  Inggris Indonesia
  Impossible tidak mungkin
  recycle : daur ulang
Pergeseran pada tataran sintaksis
Kata ke frasa (Inggris Indonesia)
  Inggris Indonesia
  girl anak perempuan
  stallion kuda jantan
Frasa ke klausa
Inggris Not knowing what to say, (he just kept quiet)
Indonesia (Karena) dia tidak tahu apa yang hendak dikatakannya, (dia hanya terdiam)
Frasa ke kalimat
Inggris His misinterpretation of the situation (caused his downfall).
Indonesia Dia salah menafsirkan situasi (dan itulah yang menyebabkan kejatuhannya).
Klausa ke kalimat
Inggris Her unusual voice and singing style thrilled her fans, who reacted by screaming, crying, and clapping.
Indonesia Suaranya yang luar biasa dan gayanya bernyanyi memikat para penggemarnya. Mereka memberikan rekasi dengan berteriak-teriak dan bertepuk tangan.
Kalimat ke wacana
Inggris Standing in a muddy jungle clearing strewn with recently felled trees, the Balinese village headman looked at his tiny house at the end of a line of identical buildings and said he felt strange.
Indonesia Kepala kampung orang Bali itu berdiri di sebuah lahan yang baru dibuka di tengah hutan. Batang-batang pohon yang baru ditebang masih berserakan di sana-sini. Dia memandang rumahnya yang kecil yang berdiri di ujung deretan rumah yang sama bentuknya dan berkata bahwa dia merasa aneh.
Pergeseran kategori kata
Nomina ke adjektiva
  Inggris Indonesia
  He is in good health. Dia dalam keadaan sehat.
Nomina ke verba
  Inggris Indonesia
  We had a very long talk. Kami berbicara lama sekali.
Pergeseran pada tataran semantik
Pergeseran makna pada tataran semantik dapat berupa pergeseran makna generik ke makna spesifik maupun sebaliknya. Misalnya pada penerjemahan kata bahasa Inggris leg atau foot ke dalam bahasa Indonesia, maka padanan yang paling dekat untuk kedua kata tersebut adalah kaki. Di sini penerjemahan bergerak dari makna spesifik ke makna generik.
Pergeseran makna karena perbedaan sudut pandang budaya
Pergeseran makna juga terjadi karena perbedaan sudut pandang dan budaya penutur bahasa yang berbeda. Misalnya orang Inggris menghubungkan ruang angkasa dengan kedalaman, sedangkan orang Indonesia dengan ketinggian atau kejauhan. Jadi orang Inggris akan mengatakan The space-ship travelled deep into space, sedangkan orang Indonesia akan berkata Kapal ruang angkasa itu terbang tinggi sekali di ruang angkasa.

 

D.Makna dan Terjemah
 
Istilah makna mengacu pada pengertian yang sangat luas. Ullmann menyatakan bahwa makna adalah salah satu dari istilah yang paling kabur dan kontroversial dalam teori bahasa. Dalam hal ini Ullmann mengemukakan bahwa ada dua aliran dalam linguistik pada masa kini, yaitu:

 

  1. pendekatan analitik dan referensial yang mencari esensi makna dengan cara memisah-misahkan menjadi komponen-komponen utama.
  2. pendekatan rasional yang mempelajari kata dalam operasinya, yang kurang memperhatikan persoalan apakah makna itu, tetapi lebih tertarik pada persoalan bagaimana kata itu bekerja.

Menurut Suryawinata (1989: 21-22) ada lima macam makna, yaitu makna LEKSIKAL, GRAMATIKAL, TEKSTUAL, KONTEKSTUAL atau SITUASIONAL, dan makna SOSIOKULTURAL.

Disisi lain, istilah MAKNA, MAKSUD dan INFORMASI ini sering dipertukarkan begitu saja, padahal satu sama lainnya sangatlah berbeda. MAKNA adalah isi semantis sebuah unsur bahasa, FENOMENA yang berada di dalam bahasa itu sendiri (internal phenomenon), sementara maksud adalah fenomena yang berada pada pemakai bahasa itu sendiri. Sedangkan INFORMASI adalah sesuatu yang berada di luar bahasa (external phenomenon), yakni sesuatu (obyek) yang dibicarakannya. Apabila makna bersifat linguistik, maka MAKSUD itu bersifat subjektif dan INFORMASI bersifat objektif.
 
Larson (1984: 26) yang membicarakan makna dalam penerjemahan, mengemukakan bahwa untuk melihat bentuk dan makna ialah dengan memikirkannya sebagai STRUKTUR LAHIR, yang mencakup struktur LEKSIKAL, GRAMATIKAL, dan FONOLOGIS. STRUKTUR BATIN yang merupakan MAKNA SEMANTIS yang tidak tersusun sama seperti STRUKTUR LAHIR. STRUKTUR LAHIR berkaitan dengan informasi eksplisit yang memberikan informasi yang diungkapkan secara jelas dengan unsur leksikal dan bentuk gramatikal. Sedangkan UNSUR BATIN berkaitan dengan informasi implisit yang tidak memiliki bentuk, tetapi merupakan bagian dari keseluruhan informasi yang dimaksudkan oleh penulis dalam teks bahasa sumber.
 
Dalam hal ini, seorang penerjemah dihadapkan pada pelbagai masalah. Menurut Savory (dalam Soemarno, 1983) kesulitan dalam penerjamahan dapat bersumber pada jenis dan bahasa yang diterjemahkan. Savory mengkategorikan naskah terjemahan sebagai berikut:

  1. Teks yang bersifat informatif,
  2. Teks yang berisi cerita,
  3. Teks yang bernuansa karya-karya sastra dan
  4. Teks yang berisi ilmu pengetahuan dan teknik.

D. Kendala Dalam Terjemahan

Permasalahan dalam terjemahan dapat dibagimenjadi: Problem Lingiustik dan Problem Budaya.

  • Problem Linguistik mencakup perbedaaan tata bahasa, kosakata-kosakata yang berbeda, dan makna masing-masing kosakata;
  • Problem budaya: berkaitan dengan bentuk situasi yang berbeda.

Budaya merupakan masalah utama yang menjadi kendala utama yang dihadapi oleh kebanyakan orang. Literatur yang kurang tepat dalam penyokong tugas penerjemahan akan memberikan konsep yang salah mengenai bahasa yang sebenarnya. Sehingga Fionty (2001) menilai bahwa terjemahan yang buruk adalah yang merubah keseluruhan makna dari teks originalnya serta mengkesampinghkan referensi-refensi budaya dari bahasa original tsb.
 
E.Ketrampilan-Kertampilan Yang Harus Dimilki Para Siswa
 

  1. Membaca teks secara mendalam ,Fase pertama bagi para pemula dalam mencoba menterjemahkan adalah proses membaca teks. Kegiatan membaca mengarah kepada kemampuan kompetensi psikologi, karena ini berterkaitan dengan sistem perseptif. Saat kita membaca kita tidak menyimpan kata di otak kita. Membaca suatu teks terjemahan secara mendalam dapat memberikan kejelasan ide-ide yang terkandung dalam teks tsb.
  2. Kemampuan Mencari,Enani(2002) menyarankan kepada para pemula jika tidak mengetahui arti sebuah kata, gunakan kamus untuk mencari jawabannya.
  3. Kemampuan Menganalisa, Teks yang telah diterjemahkan harus dianalisa kembali hasilnya sehingga finished productnya tidak menyimpang dari ide-ide pokok yang dijabarkan dalam teks originalnya. Antara teks yang telah diterjemahkan harus tetap memiliki keterkaitan padu yang tentu saja tidak terpecah-pecah dan jauh dari ide utama dari pesan original teks tsb.   
  4. Kemampuan Menyusun,Langkah  terakhir adalah menyusun hasil terjemahan  yang telah dianalisa kedalam kajian  yang lebih sempurna atau finished formnya. Dalam proses penyusunan terjemahan itu kita telah yakin bahwa ide-ide yang terkandung dalam teks originalnya telah ditrasformasikan kedalam bahasa targetnya.

Problem  yang dihadapi kebanyakan orang dalam menterjemahkan sebuah teks bahasa Inggris dikarenakan lemahnya penguasaan kosakata, minat membaca yang kurang, terlebih-lebih membaca teks-teks yang berbahasa Inggris.

Join the Facebook

SEKOLAH TINGGI BAHASA ASING
STIBA-IEC JAKARTA
Jl. Jatinegara Barat 187
Jakarta Timur 13310
Tlp.(021) 8518685,85916942
Fax.(021) 85916942
262992
All days
262992

20-10-2014

Copyright © 2014. STIBA-IEC Jakarta All Rights Reserved.